Oleh Drs. Usman Yatim, M.Pd, M.Sc.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka Musyawarah Nasional (Munas) Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 25 Juli di Jakarta Convention Center (JCC). Munas MUI yang digelar sampai 28 Juli itu mengambil tema besar “Meningkatkan Peran Ulama dalam Perbaikan Akhlak Bangsa dan Pemberdayaan Ekonomi Umat”.
Melihat dari tema besar ada dua hal besar yang akan dibincangkan Munas , pertama menyangkut perbaikan akhlak bangsa yang terkait dengan pembangunan karakter. Kedua mengenai upaya pemberdayaan ekonomi umat dalam konteks meningkatkan kesejahteraan dan sekaligus mengentaskan kemiskinan.
Presiden SBY terlihat mengapresiasi tema besar Munas MUI kali ini. Senin pekan lalu, Presiden SBY sudah memberikan arahan hal tersebut. Khusus terkait akhlak bangsa, Presiden meminta MUI memberi perhatian terkait tragedi video mesum. Kasus yang mencuat karena melibatkan selebrititis itu baru-baru ini dikabarkan juga ikut membuat SBY merasa malu dan sedih.
Presiden berharap kepada MUI supaya member perhatian ulama dan keluarga muslim soal menjaga akhlak bangsa ini. Presiden dalam hal ini sudah menginstruksikan kepada Kepolisan dan Jaksa Agung, untuk bisa melakukan langkah-langkah sesuai dengan ketentuan hukum, dan tidak ragu-ragu dalam menangani masalah tersebut.
Tentu saja, kasus video porno hanyalah contoh kecil dari berbagai persoalan yang terkait dengan akhlak bangsa. Masalah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang tetap marak dalam era reformasi saat ini juga sesungguhnya sangat terkait dengan akhlak bangsa. Bahkan harus diakui, masalah ini juga membuat kehidupan kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tetap dalam kondisi memprihatinkan.
Belum lagi prilaku mementingkan diri sendiri, upaya memperkaya diri tanpa peduli dengan kehidupan masyarakat yang banyak masih dalam kemiskinan, juga tidak lepas dari persoalan akhlak bangsa. Tentu saja, sebagaimana diharapkan Presiden SBY, masalah akhlak bangsa ini dapat menjadi pembahasan serius dari peserta Munas MUI yang meliputi dari para ulama, zuama dan cendekiawan Muslim seluruh Indonesia.
Munas MUI diharapkan tidak sekadar mengeluarkan seruan tapi juga diharapkan memberikan masukan sebagai solusi dalam memecahkan persoalan bangsa yang ada. Menyangkut akhlak bangsa itu, bagaimana MUI dalam dakwahnya dapat benar-benar menyadarkan umat tentang perlunya akhlak mulia sebagai bagian dari karakter bangsa.
Sebagaimana kita ketahui, masalah karakter bangsa kini menjadi gerakan yang disuarakan oleh banyak pihak. Departemen Pendidikan Nasional dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional, misalnya, juga mengangkat tema masalah karakter bangsa ini. Kita harus akui, Indonesia memang ternyata masih lemah dalam masalah karakter. Padahal kita tahu, karakter merupakan prasyarat utama bila kita ingin mengangkat harkat, derajat, dan kualitas bangsa dan Negara yang dapat ikut dalam persaingan era globalisasi.
Apa yang diharapkan Presiden SBY terhadap MUI memang tidaklah berlebihan. Sebagaimana diketahui, saat Munas MUI digelar, adalah bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-35. MUI didirikan adalah sebagai wadah atau majelis yang menghimpun para ulama,zuama dan cendekiawan Muslim Indonesia untuk menyatukan gerak dan langkah-langkah umat Islam Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bersama. MUI yang terbentuk pada 26 Juli 1975 di Jakarta merupakan hasil dari pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan dan zu'ama yang datang dari berbagai penjuru tanah air.
Momentum berdirinya MUI bertepatan ketika bangsa Indonesia tengah berada pada fase kebangkitan kembali, setelah 30 tahun merdeka, di mana energi bangsa telah banyak terserap dalam perjuangan politik kelompok dan kurang peduli terhadap masalah kesejahteraan rohani umat. Boleh disebut kala itu keadaan Indonesia juga dalam kondisi habis terpuruk dalam kehidupan era Orde Lama dan mencoba bangkit dalam era Orde Baru. MUI saat itu juga diharapkan dapat memainkan peran dalam membangun akhlak bangsa. Kini harapan terhadap MUI juga seolah senanda sebagaimana awal berdirinya.
MUI diminta memainkan perannya agar bagaimana umat Islam Indonesia dapat menghadapi tantangan global yang sangat berat. MUI ditantang menyikapi kemajuan sains dan teknologi yang dapat menggoyahkan batas etika dan moral, serta budaya global yang didominasi Barat. Begitu pula, MUI diharapkan mampu membangun kehidupan religiusitas masyarakat yang cenderung karena globalisasi meremehkan peran agama dalam kehidupan umat manusia.
Kehadiran MUI diakui, makin dirasakan kebutuhannya sebagai sebuah organisasi kepemimpinan umat Islam yang bersifat kolektif dalam rangka mewujudkan silaturrahmi, demi terciptanya persatuan dan kesatuan serta kebersamaan umat Islam. Selama tiga puluh lima tahun perjalanannya, MUI harus diakui telah mampu memainkan perannya sebagai organisasi pemimpin umat. Boleh dikatakan, ketika berbagai masalah yang terkait dengan kehidupan umat, MUI menjadi tempat bertanya dan pemberi petunjuk atau bimbingan lewat fatwa-fatwanya.
MUI dalam perkembangannya memang telah berusaha untuk memberikan bimbingan dan tuntunan kepada umat Islam dalam mewujudkan kehidupan beragama dan bermasyarakat yang diridhoi Allah Subhanahu wa Ta'ala. MUI memberikan nasihat dan fatwa mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada pemerintah dan masyarakat. MUI ikut meningkatkan kegiatan bagi terwujudnya ukhwah Islamiyah dan kerukunan antar-umat beragama dalam memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa.
MUI juga telah dapat menjadi penghubung antara ulama dan umaro (pemerintah) dan penterjemah timbal balik antara umat dan pemerintah guna mensukseskan pembangunan nasional. Selain itu MUI juga berperan meningkatkan hubungan serta kerjasama antar organisasi, lembaga Islam. Boleh dikatakan, kita muncul berbagai persoalan bangsa dalam bidang apapun, MUI selalu dilibatkan untuk ikut menyejukkan nurani umat.
Tentu saja dalam kiprahnya, biarpun MUI telah dapat memainkan perannya, tetap saja berbagai kritikan dialamatkan kepada organisasi ini. Berbagai kritikan itu mulai dari yang bersifat memberikan masukan, sampai juga ada yang bernada menghujat. Bagaimanapun, kritikan tersebut tentu saja dapat dimaklumi bila mengingat dinamika yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Apalagi bila diingat tantangan globalisasi yang sudah menerpa kehidupan umat sehingga merasa apa yang dilakukan MUI dianggap sebagai suatu hal yang tidak disetujui, berlebihan atau bahkan mengada-ada. Namun, pada akhirnya apa yang dilakukan MUI tetaplah bertujuan untuk membangun moralitas dan akhlak umat, bangsa dan Negara.
Kita berharap, MUI ke depan tetap memainkan perannya sebagai pewaris tugas-tugas para Nabi (Warasatul Anbiya), pemberi fatwa (mufti) yang menenangkan hati umat, pembimbing dan pelayan umat, gerakan pembangun silaturahmi antara umat dan umara, serta sebagai penegak amar ma'ruf dan nahi munkar. Akhirnya, pada kesempatan ini patut kita ucapkan selamat ulang tahun MUI ke-35 dan sukses melaksanakan Munas 2010.