Thursday, September 09, 2010

Image

(Gorontalo, MADINA): Para mahasiswa yang diterjunkan dalam Kuliah Kerja Sinergis Bersama Masayarakat (KKS) untuk membangun Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di desa jangan takut salah, karena sudah dibekali materi. Kita juga sudah mempunyai komitmen bahwa Posdaya harus dibentuk  walaupun tidak dihadiri oleh Kepala Desa maupun Bupati kita terus tetap bekerja.

Pesan itu disampaikan Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono sebelum melepas 1.300 mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) untuk melakukan KKS di kampus UNG, pekan lalu.

Dijelaskannya, syarat dari KKS ini  adalah bagaimana membangun komitmen  dengan bupati, camat, kepala desa dan punggawa pemerintah di setiap desa. Komitmen ini harus dibangun dalam persatuan  dan kesatuan. Tidak ada saingan  bahwa mahasiswa akan  menggantikan bupati, tidak ada persaingan bahwa mahasiswa  menjadi camat di desa  karena Posdayanya sukses. Tetapi semunya adalah  demi pengetasan kemiskinan, dan suksesnya delapan sasaran  Millennium Development Goals (MDGs).    

Yayasan Damandiri, kata Prof Haryono  pada  15 Januari 2011 yang akan memberikan pengharagaan Posdaya Award. Para mahasiswa yang terjun ke desa selain membentuk dan mengisi Posdaya  harus mencari apa yang dinamankan  mutiara bangsa dari dalam Posdaya  baik dari masyarakat maupun pengurus Posdaya.

Posdaya-Posdaya yang berhasil  mengisi kegiatannya  dengan mengentaskan kemiskinan  menurunkan kematian ibu hamil dan membangun lingkungan yang kondusip di tingkat kabupaten/kota akan mendapat award dari Bupati/Walikota. Sedangkan Posdaya Award tingkat nasional akan diberikan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Yayasan Damandiri tanggal 15 Januari 2011.

Mutiara bangsa berasal dari para mahasiswa  yang berhasil membawa Posdaya dengan baik, Posdayanya hidup, mempunyai kegiatan ekonomi dan pendidikan, serta kegiatan kesehatan dan kegiatan lingkungan dapat diusulkan  untuk mendapatkan bea siswa  Supersemar.

Mutiara bangsa juga bisa  berasal dari para dosen pembimbing dan dosen Pembina. Apabila berhasil melakukan kegiatan Posdayabdan ingin melanjutkan pendidikan S2 atau S3  dapat diusulkan mendapatkan biaya penelitian untuk tesis dan disertasinya serta  bantuan  biaya SPP. Menurutnya, langkah ini adalah upaya untuk mengembangkan  pengentasan kemiskinan  maupun kegiatan Posaya di pedesaan sekaligus mensukseskan program MDGs.

Proponsi Gorontalo merupakan propinsi pertama di luar Jawa yang melaksanakan KKS. “Dari Propinsi Gorontalo diharapkan baik  gubernur, rektor, bupati  dari Gorontalo  menjadi salah satu wakil  yang diusulkan  mendapatkan Posdaya Award secara nasional,” harap  Prof  Haryono.

Harapan itu cukup beralasan, karena di kabupaten Boalemo saja sudah ada 84 Posdaya yang dapat menjadi model dan panduan untuk mengembangkan Posdaya di Propinsi Gorontalo. Padahal sebelumnya, Yayasan Damandiri ingin mengajak para mahasiswa  atau wakilnya untuk belajar  membangun Posdaya di Jawa.

“Waktu ini  tidak saja di Boalemo  tetapi di  Purwokerto  ada 1.500 mahasiswa berada di desa, begitu juga di Malang  2.500 mahasiswa bersama masyarakat di desa,” tambahnya.

Melalui komitmen Gubernur, Rektor dan Bupati, Propinsi Gorontalo akan menjadi propinsi yang luar biasa.  Sebagai contoh di Kabupaten Boalemo Penyuluh  Lapangan Keluarga Berencana (PLKB)  menjadi duta-duta MDGs  di pedesaan.  Karena MDGs  membawa nama baik bangsa, dua presiden Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono telah  menandatangani  kesepakatan untuk memenuhi delapan target MDGS pada tahun 2015. Kalau sempat gagal, maka bangsa ini akan malu dengan negara lain.

Indonesai  sekarang mempunyai IPM peringkat 111 dari 182 negara. Alangkah malunya kalaau gagal dan  kita dianggap  miskin, dianggap bodoh dan tidak punya pekerjaan. Kalu Posdaya ini marak dimana-mana maka peringkat IPM kita membaik di bawah 100.

IPM negara tetangga di Asean tidak ada peringatnya melebihi 100 kecuali Indonesia,  yang penduduknya 200 juta lebih. Kalau Gorontalo  berhasil meningkatkan IPM maka Indonesia  akan menanjak dengan kekuatan  seperti Republik China yang penduduknya 1,3 milyar. China dulu peringkatnya hampir 100 sekarang  sudah nomer 70, karena rakyatnya bekerja keras. “Tidak ada pilihan lain kecuali bekrja cerdas dan keras. Tidak boleh bersantai-santai, tidak boleh  rakyat bodoh dan malas,” ujar Prof  Haryono mengingatkan.

Melalui KKS diharapkan para mahasiswa dapat mengembangkan  budaya belajar, jangan sampai ada satu anak usia sekolah tidak sekolah.  Rektor UNG memberikan gebrakan yang laur biasa sehingga  Gubernur Gorontalo dan Bupati Boalemo  mempunyai semangat tinggi dan gubernur berjanji program ini akan segera disebar keseluruh wilayah Gorontalo. (sy/M2)