Oleh Prof Haryono Suyono

Akhir minggu ini, tepatnya tanggal 23 Juli 2010, bangsa Indonesia memperingati Hari Anak Nasional 2010. Menurut proyeksi jumlah anak-anak di bawah usia 15 tahun, dewasa ini adalah 60 – 65 juta jiwa. Kalau Sensus Penduduk menghasilkan angka sampai 240 juta, maka jumlah anak-anak akan mencapai sekitar 65 – 70 juta jiwa, suatu jumlah yang tidak boleh dipandang enteng. Di masa lalu kita berhasil menekan pertumbuhan penduduk dengan baik sehingga jumlah anak-anak di bawah usia 15 tahun bisa dikurangi sehingga berbagai usaha untuk mendidik anak dan remaja menjadi calon pemimpin masa depan dapat diatur dengan baik. Penduduk usia 15 – 60 tahun dewasa ini jumlahnya sekitar dua sampai tiga kali jumlah penduduk usia sama di tahun 1970. Apabila kita sembrono dalam pelaksanaan program KB, karena penduduk muda sekarang ini lebih sehat dan lebih subur dibanding di masa lalu, mereka dipastikan bisa melahirkan anak-anak yang lebih sehat dan lebih banyak jumlahnya. Ledakan anak-anak dan penduduk Indonesia yang lebih dahsyat pasti tidak bisa dihindari lagi.
Oleh karena itu sejak awal bulan Juli ini Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) bersama rekan kerjanya, termasuk pemerintah daerah dan kalangan perguruan tinggi di daerah, mengadakan Gerakan Nasional Safari Gempita Mutiara Bangsa. Gerakan Safari ini bertujuan mencari Mutiara Bangsa yang tanpa komando siapapun bersedia memberi perhatian dan peduli terhadap sesama anak bangsa. Mereka bergerak secara mandiri membangun dan sekaligus menjadi tauladan di sekitarnya terpanggil hatinya untuk berbuat baik kepada sesama dengan membawa pesan-pesan untuk menyelesaikan target-target MDGs yang didalamnya terdapat usaha besar penanganan pembangunan berbasis kependudukan.
Gerakan individu-individu atau kelompok yang peduli itu dipadukan dalam Safari Gempita Mutiara Bangsa untuk mengundang semua anak bangsa yang ingin berbuat baik kepada anak bangsa lain yang masih tertinggal dalam pembangunan yang gegap gempita pada saat ini. Mutiara bangsa itu diajak bergabung dalam Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di pedesaan agar tanpa malu-malu bisa berbuat bersama untuk menolong sesama anak bangsa lainnya. Dalam kebersamaan dalam Posdaya para mutiara bangsa itu tidak perlu rikuh pakewuh atau merasa segan untuk membantu, dan senada dengan itu mereka yang perlu bantuan tidak perlu merasa kikuk karena yang membantu bukan hanya perorangan yang bisa dituduh menghina, tetapi seluruh kelompok komunitas yang peduli terhadap sesama.
Dalam kegiatan awalnya mereka menempatkan keluarga muda yang miskin menjadi sasaran yang utama. Keluarga muda dan miskin biasanya tidak bekerja secara penuh. Keluarga muda biasanya suaminya saja yang bekerja karena isterinya dibebani dengan anak-anak di bawah usia lima tahun atau bahkan anak-anak usia sekolah yang memerlukan perhatian yang tinggi dari kedua orang tuanya. Untuk itu Posdaya biasanya diharapkan segera mengajak keluarga-keluarga muda untuk membawa anak-anak balita bergabung dalam gerakan bina keluarga balita atau mendirikan semacam sekolah untuk anak balita yang selanjutnya dikembangkan menjadi pusat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Dinas pendidikan setempat biasanya diminta bantuan oleh Posdaya untuk melengkapi guru-guru bagi PAUD itu.
Namun, apabila dinas setempat tidak responsif, melalui kreatifitas yang tinggi, Posdaya yang dinamik tidak menunggu kesiapan dari Dinas setempat. Penduduk setempat menugasi anak-anak remaja di desanya yang sudah sekolah di SMP atau SMA untuk secara bergiliran mengajar di PAUD yang didirikan oleh Posdaya setempat. Mereka dikirim ke taman kanak-kanak yang ada di kotanya untuk melirik kegiatannya dan belajar dari sekolah resmi yang ada. Ada lagi yang akalnya bagus, mereka meminjam salah satu guru dari Taman Kanak-kanak yang maju untuk menjadi penggerak di PAUD yang didirikan warga Posdaya. Tenaga pengajar yang dipinjam biasanya diangkat menjadi “Ketua PAUD” Posdaya. Pengaturan itu menguntungkan semua pihak karena kualitas PAUD langsung melejit sama dengan Taman Kanak-kanak induknya.
Pembentukan PAUD itu biasanya diikuti kegiatan yang diurus oleh para ibu yang tergabung dalam PKK dengan kegiatan pelatihan ketrampilan bagi ibu-ibu yang mempunyai anak balita yang sudah dimasukkan dalam PAUD. Ibu-ibu yang mempunyai anak balita tidak boleh lagi menunggu anaknya yang sedang sekolah, tetapi bergabung dalam pelatihan ketrampilan untuk menambah ilmu dan sekaligus diajak magang kepada pengusaha yang ada di desa. Kalau kerja mereka dalam proses magang dianggap baik, ada juga yang langsung diterima menjadi karyawan dan bertambahlah penghasilannya sehari-hari yang bisa dipergunakan untuk menambah makanan bergizi untuk anak balitanya. Proses pelatihan untuk para ibu itu menjadi sangat penting karena sebagai isteri keluarga miskin mereka tidak lagi hanya bergantung kepada suaminya tetapi dengan kekuatan tambahan bisa menjadi penopang penghasilan keluarga yang semula hanya tergantung pada suami yang umumnya berpendidikan sangat rendah.
Oleh karena itu dianjurkan kepada Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang mengurusi anak-anak untuk melihat PAUD bukan sekedar sebagai upaya mendidik anak-anak bangsa saja tetapi dipadukan dengan kegiatan para ibu muda menambah kemampuan orang tua, khususnya ibu-ibu agar bisa bekerja memperoleh penghasilan yang lebih baik sebagai modal sekolah anak-anaknya dan memberikan gizi yang lebih baik pada anak balitanya. Gizi yang baik diberikan setiap hari karena keluarganya mempunyai kebun bergizi di rumahnya dan sekaligus bekerja secara ekonomis dengan dukungan sanak keluarga dan tetangganya. Pendidikan anak balita sekaligus diikuti dengan pemberdayaan kepada kedua orang tuanya, tanpa itu mustahil kita bisa membangun anak bangsa dengan baik. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Umum DNIKS, www.haryono.com).