(Solo, MADINA): Acara Tingaladalem Jumenengan Ke-VI S.S.I.S.K.S Pakoe Boewono XIII Sinuhun Tedjowulan, diwarnai dengan pemberian gelar kepada beberapa tokoh nasional yang dianggap berjasa terhadap kebudayaan dan juga berjasa terhadap Bangsa Indonesia.
Setidaknya ada 10 tokoh nasional yang mendapatkan gelar yakni, Prof. Haryono Suyono (Mantan Menko Kesra), Ir. Joko Kirmanto (Menteri PU), Prof. Jimly Asshiddiqie (mantan Ketua Mahkamah Konstitusi), Dr. H. Akbar Tandjung (Mantan Ketua DPR RI), Poppy Susanti Dharsono (Anggota DPD Jateng), Qory Sandioriva (Puteri Indonesia), Kalingga (Budayawan/Pengelola Museum Radya Pustaka), Putu Ary Suta (Mantan Kepala BPN), Nina Akbar Tandjung, Najwa Shihab (Presenter Metro TV).
Prof Dr Haryono Suyono yang kini menjadi Ketua Yayasan Damandiri dan Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosisla (DNIKS) mendapat gelar Kanjeng Pangeran (KP) Aryo Haryokusumo. Djoko Kirmanto mendapat gelar Kanjeng Pangeran (KP) Aryo Kridodiningrat. Jimly Asshidiqie mendapat gelar Kanjeng Pangeran (KP) Aryo Pradotoadikusumo.
Sedangkan Ketua Dewan Penasihat Partai Partai Golkar dan Mantan Ketua DPR RI, Akbar Tandjung mendapat gelar Kanjeng Pangeran (KP) Adipati Aryo Tandyonagoro dan Poppy Dharsono mendapat gelar Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Adipati Kusumaningrum. Adapun Qory Sandrioriva mendapat gelar Kanjeng Mas Ayu (KMAy) Qory Mustakaningrum, dan presenter Najwa Shihab mendapat gelar Kanjeng Mas Ayu (KMAy) Wartaningrum.
Beberapa tokoh tersebut dianggap Keraton Surakarta Hadiningrat berjasa atas sumbangsih lewat karya-karya yang mereka lakukan. Prof Dr Haryono Suyono, misalnya, kini selain memimpin sejumlah organisasi dan yayasan, juga bergiat dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan berbagai komponen bangsa melalui Pos Pemberdayaan keluarga (Posdaya). Ir. Joko Kirmanto pernah menggagas sekaligus membantu merenovasi umbul Pengging dan renovasi Masjid Agung Surakarta serta mengimplementasikan pembangunan sarana penghubung wilayah yang juga membantu pengembangan budaya daerah.
Selain tokoh nasional, Sinuhun Tedjowulan juga memberikan gelar Kanjeng Ratu Ageng kepada R.Ay Retnodiningrum yang merupakan garwa dari Pakoe Boewono XII dan ibunda dari S.S.I.S.K.S Pakoe Boewono XIII Sinuhun Tedjowulan. Pemberian ini adalah pertama kalinya sejak 70 tahun terakhir Keraton Surakarta Hadiningrat memberikan gelar kepada ibunda Raja Surakarta.
Raja Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Sampe-yandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono (PB) X Tedjowulan dalam amanatnya mengajak raja-raja di Nusantara untuk terus melestarikan dan membangun budaya bangsa untuk menangkal budaya asing yang tidak cocok.
Dikatakannya, tanpa ada kerja sama semua pihak termasuk dari raja-raja di Nusantara, maka akan sulit untuk melestarikan kekayaan bangsa berupa akar budaya dan nilai-nilai luhur budaya tersebut. "Apalagi saat ini tanda-tanda zaman, antara lain, terjadi pergeseran budaya telah terlihat seperti korupsi dan tidak memiliki rasa malu," ujar PB XIII Tedjowulan yang saat ini juga menjabat Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton-keraton se-Nu-santara (FSKN).
Menyangkut pemberian gelar kepada sejumlah tokoh, menurut oleh PB XIII Tedjowulan merupakan kehormatan. Mereka dinilai sebagai tokoh yang berjasa dalam melestarikan budaya bangsa.
"Banyak pelajaran yang bisa diambil dari nilai-nilai luhur bangsa ini seperti kepemimpinan serta menghormati keberagaman," ujar Akbar Tandjung seusai mendapatkan gelar kebangsawanan tersebut.
Hal senada juga dikatakan Ricky Rachmadi yang mendapatkan gelarkebangsawanan dari Keraton Surakarta untuk yang kedua kalinya. "Gelar tersebut merupakan tanggung jawab besar yang harus dilaksanakan, terutama dalam pelestarian kebudayaan Jawa dalam konteks memperkuat kebangsaan Indonesia. Upaya-upaya untuk pelestarian budaya Jawa harus terus dilakukan," ujarnya yang tiga tahun lalu mendapat gelar Kangjeng Raden Haryo (KRH).
Berbeda dengan acara serupa tahun-tahun sebelumnya, tingalan jumenengan ini juga dihadiri 48 raja dan sultan dari kerajaan di Nusantara, antara lain Gowa, Bali, dan Bone yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Keraton Se-Nusantara (FSKN). (ist)