| Nama Media |
MADINA |
| Badan penerbit |
PT Media Madina Nusantara |
| Pemimpin Umum |
Prof.Dr.H.Syofyan Saad, M.Pd. |
| Pemimpin Redaksi |
Drs.H.Usman Yatim, M.Pd. |
| Pemimpin Perusahaan | Drs.H.Usman Yatim, M.Pd. |
| Isi penerbitan |
Berita/umum |
| Bahasa |
Indonesia |
| Jumlah halaman |
12 halaman |
| Periode terbit |
Harian (sementara mingguan) |
| Jangkauan peredaran |
Nasional |
| Alamat |
Jl. Pemuda III B No. 5 Rawamangun, Jakarta Timur Indonesia |
| Telepon |
021-47885367 |
| Faks | 021-7560748 |
| This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it |
Suratkabar MADINA pertama kali diterbitkan pada 6 Juni 2004. Media ini dirintis dan didirikan oleh Usman Yatim, seorang wartawan yang aktif dalam organisasi PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Awal penerbitan ini mendapat dukungan dari Dasril Hasibuan, seorang birokrat di Pemprov DKI Jakarta yang saat itu menjabat Kepala Suku Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Jakarta Pusat. Selain itu didukung pula oleh Prof.Dr.Syofyan Saad M.Pd yang kala itu menjabat Direktur Program Pascasarna Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka (Uhamka) Jakarta, Prof.Dr.Said Agil Husin Al Munawar MA (mantan Menteri Agama), Drs.H.Feisal Tamin (mantan Ketua Umum DPP Korpri dan mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara), Dr.H.Tarmizi Taher (mantan Menteri Agama), dan Prof.Dr.H.Haryono Suyono MA (Wakil Ketua Yayasan Damandiri dan mantan Kepala BKKBN dan mantan Menko Kesra dan Pengentasan Kemiskinan).
Visi dan misi MADINA tidak lepas dari sosok Usman Yatim dan orang-orang yang mendukungnya. Suratkabar MADINA mempunyai motto “Masyarakat Dinamis dan Nasionalis”. Dari motto ini dapat ditangkap bahwa media ini merupakan media umum yang dibangun dengan semangat nasionalisme untuk mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang dinamis. Namun, jika dilihat dari namanya, terkesan media ini seolah mengedepankan semangat religiusitas keislaman. Usman Yatim tidak menolak kesan ini karena memang nama MADINA mirip dengan Madinah, kota suci umat Islam di Arab Saudi. “Visi kita memang tak lepas dari Madinah Al Munawarah yang mengandung makna dan semangat mengedepankan religiusitas yang berperadaban, perdamaian dan pluralisme. Visi ini datang dari pak Said Agil Husin Al Munawar dan Pak Tarmizi Taher,” kata Usman, mantan wartawan Suara Karya ini.
Sesuai dengan latar belakang Usman Yatim yang berada dalam dunia pendidikan, suratkabar MADINA selalu akrab dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Makna masyarakat dinamis sebetulnya ditempatkan dalam konteks pendidikan, yaitu mendorong adanya perubahan kehidupan masyarakat secara positif. Kehadiran MADINA diharapkan dapat membuat masyarakat pembacanya sadar akan pentingnya pendidikan. Bukan semata dalam arti pembelajaran di persekolahan tapi bagaimana masyarakat selalu mau belajar, mau mengubah kehidupan mereka, baik dilihat dari sikap maupun tindakan dalam kehidupan keseharian. “Visi ini banyak juga diwarnai oleh pikiran Pak Syofyan Saad, menantu Buya Hamka yang bergelut dalam bidang pendidikan,” kata Usman.
Nama MADINA juga terkait dengan salah satu daerah tingkat II di Sumatera Utara, yaitu Kabupaten Mandailing Natal atau disingkat Madina. Diakui Usman, nama ini ditawarkan oleh Dasril Hasibuan yang memang berasal dari daerah tersebut. MADINA terasa pas jika dihubungkan dengan daerah tersebut untuk menggambarkan bahwa media ini memang ingin berperan dalam pembangunan daerah. “Waktu awal MADINA terbit, semangat otonomi daerah demikian mencuat. Kita juga berharap pembangunan dapat merata ke seluruh daerah seperti Kabupaten Madina yang kondisinya masih banyak tertinggal dibanding daerah lain,” ujar Usman.
MADINA memposisikan pula sebagai media “bacaan buat para pengambil kebijakan.” Maksudnya, MADINA adalah media informasi dan edukasi yang punya spesifikasi pembaca untuk kalangan birokrat dan para pengambil kebijakan, serta masyarakat yang ingin tahu tentang para pengambil kebijakan tersebut. “Saya tidak menolak jika isi MADINA mirip dengan harian Suara Karya masa Orde Baru yang cenderung mendukung kebijakan pemerintah. Hanya bedanya, MADINA bukan suratkabar partisan yang dimiliki oleh partai politik tertentu. Kita murni independen, tidak memihak pada kekuatan politik manapun. Media kita hanyalah media informasi untuk para pengambil kebijakan yang suaranya cenderung kurang mendapat tempat pada media umumnya yang sudah ada. Posisi MADINA ini kita yakini tidak akan berubah meski orang yang berada di pemerintahan sudah berganti. Yah, tidak jauh beda dengan netralitas Korpri yang sudah direformasi pada era Pak Feisal Tamin. Tapi kita tetap kritis, kita bekerjasama dengan Komwas PBB (Koalisi Masyarakat untuk Pengawasan Pemerintahan yang Baik dan Bersih),” tutur Usman.
Sesuai dengan perkembangan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara saat ini yang masih banyak dirundung masalah, terutama rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat, sajian suratkabar MADINA banyak yang berhubungan dengan upaya pengentasan kemiskinan. MADINA sangat bersenang hati bekerjasama dengan Yayasan Damandiri yang dipimpin Prof. Dr.Haryono Suyono, MA. “Tidak diragukan, kita punya komitmen kuat mendukung program Yayasan Damandiri yang sepenuh hati mendukung pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, mengentaskan kemiskinan dengan upaya-upaya yang realistis dan dapat dilihat hasilnya,” ucap Usman Yatim.
MADINA dirancang sebagai suratkabar harian dengan jangkauan seluruh Indonesia. Namun, media ini kini baru dapat terbit rutin mingguan dengan hari edar setiap Senin. Masalah modal menjadi faktor utama belum dapatnya media ini terbit harian. “Insya Allah, sebelum tahun 2010 suratkabar MADINA dapat terbit harian. Lamanya menunggu untuk menjadi harian karena media ini lebih mengupayakan daya tahan kala kecil dan punya pondasi kuat ketika besar. “Kita masih menunggu investor yang dapat menangkap visi dan misi kita.”
Menurut Usman Yatim, banyak media yang didukung dana besar pada akhirnya mengecil dan bahkan tidak dapat terbit lagi karena tidak dibangun dengan pondasi yang kuat, baik dilihat dari sudut bisnis, professionalitas dan moralitas. MADINA ingin tampil sebagai media yang berbeda dengan kecenderungan media era reformasi. “Media kita ingin benar-benar jauh dari kebebasan yang kebablasan, tidak mengkritik untuk menjatuhkan posisi seseorang. MADINA media yang santun, jauh dari mengedepankan polemik bernuansa konflik. Kode etik Jurnalistik sangat kita pegang teguh. Ini memang tidak popular tapi kita akan tetap demikian,” demikian Usman Yatim.
