(Jakarta , MADINA): Laju pemerintahan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono awal tahap kedua memasuki periode 2010-2014, mengecewakan. Pasalnya, sikap Presiden Yudhoyono yang sangat lemah dalam melakukan reformasi bidang hukum di negeri ini.
Hal ini bisa terlihat dengan bebasnya adik kandung pimpinan PT Masaro, Anggoro yakni Anggodo dan Ary Muladi, dua tokoh yang santer disebutkan namanya di berbagai media massa, dua pelaku dugaan skandal kasus penyuapan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bibit Samad Rianto-Chandra M Hamzah dan Wakil Kejaksaan Agung (Kejagung) yang kini di nonaktifkan, A H Ritonga dan mantan Kabareskrim Mabes Polri, Susno Duadji.
Padahal, pemberantasan kasus korupsi menjadi agenda prioritas utama Presiden SBY dan Wakilnya Dr Boediono dalam 100 hari kinerja kabinetnya.
Demikian dikatakan Wakil Ketua DPD RI, Dr Laode Ida, pada saat membuka secara resmi Seminar Ikatan Cendikiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Seri ke-4 yang bertema “Prospek Meningkatkan Kualitas Demokrasi Pasca Pemilu 2009” di Ruang GBHN Gedung MPR/DPR RI, Jakarta, Rabu lalu.
“Pasca Pemilu 2009 awal tahap kedua memperdayakan yang lain, maka rusaklah moralitas bangsa ini. Jadi yang kita harapkan sebetulnya adalah mulai muncul dan terenergized, sekarang yang muncul ini kanapa kekuatan ekstra parlemen di awal pemerintahan Presiden RI SBY Tahap II. Bagaimana caranya dan apa hukumnya, pemimpin bersumpah atas nama Allah SWT dihadapan publik, seperti itu, saya bersumpah dihadapan Allah, di hadapan anda-anda semua bahwa saya bersih,” katanya.
Dia memandang, ICMI perlu mengkaji hal itu. “Saya sebetulnya pendukungnya, tetapi saya tidak pernah membayangkan periode keduanya seperti ini. Oleh karena itu juga, saya punya konsekuensi politik, setelah saya memberikan dukungan terhadap beliau,” tegasnya.
“Tetapi harus diakui pemerintahannya tahap kedua ini mengecewakan. Semua orang kalau tidak kecewa, saya kira mereka itu sudah larut dalam dan terjebak pada suasana yang mata hatinya sudah tidak terbuka,” terang dia.
Seperti diketahui, banyak tokoh lintas agama merasa kecewa terhadap awal pemerintahan SBY tahap kedua ini, semisal, tokoh Muhammadiyah, Samsul Maarif, Din Syamsudin dan dari kalangan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Hasyim Muzadi, serta tokoh intelektual seperti Dr Yudi Latif, Dewan Pakar ICMI.
“Semua melihat sosok pemerintahan Presiden SBY di periode keduanya ini, dengan segala hormat kita kecewa,” tegasnya lagi.
Tetapi, sambungnya, ini barangkali tahap awal periode keduanya, mungkin bisa menjadi bahan koreksi di dalam bahu kita semua dan untuk Presiden SBY sendiri dan masyarakat luas tidak berharap untuk menghadirkan satu kondisi yang buruk.
“Ke depan yang kita harapkan adalah kondisi yang lebih baik dari apa yang terjadi hari ini. ICMI harus memberikan kontribusi yang lebih untuk pemerintahan yang ada saat ini,” tandasnya. (mur)