TAHUN 2012 kiamat. Itu yang dikesankan film yang berjudul 2012 garapan Sutradara Roland Emmerich Pemain Cusack, Amanda Peet, dan Danny Glover. Majelis Ulama Indonesia pun bereaksi terhadap film itu.
Film itu intinya mengisahkan premise berabad-abad yang lalu, suku Maya meninggalkan kalender mereka, dengan hari akhir yang jelas dan semua itu terjadi. Sutatu hari, sang artropologis menemukannya, numerologis menemukan tanda-tanda yang memprediksinya, geologis berkata bahwa bumi membayar untuk itu dan bahkan ilmuan pemerintah tidak dapat membatalkan dan menunggu bumi di tahun 2012. Sebuah ramalan yang dimulai dengan orang-orang Maya sekarang didiskusikan dan dikaji. Dengan 2012, kita akan tahu bahwa kita sudah diperingatkan.
Dengan kata lain, ”kabar” kiamat dari film itu, cuma fiktif berepos historikal. Jadi biasa-biasa saja. Hanya saja di sana mengesankan kiamat bakal terjadi di tahun 2012. Soalnya kemudian, bagi banyak orangb beriman, kiamat pasti tapi entah kapan. Tetapi ideologi ini memang tidak mati, tapi telah berganti fungsinya: bukan sesuatu yang membebaskan berkreasi dan bertransendensi.
Secara positif, harusnya disimak ”seakan” kiamat makin dekat, sebagaimana pernah dengan gemilang dipremisekan oleh sinetron Kiamat Sudah Dekat karya Deddy Mizwar. Masyarakat menyambut antusias, malah sejumlah petinggi republik ini ada yang menontonnya.
Artinya, dari Kiamat Sudah Dekat karya Deddy Mizwar itu ada sejumlah realita hidup tersingkap, dan langsung menggedor kesalehan sosial. Mengapa kita tak memperlakukan medium yang sama terhadap film 2012? Maka sebuah karya kreasi yang bersumber dari keinginan menggugah kesadaran transendensi, karenanya memikat. Sebuah anggapan yang berlebihan tidak perlu sampai kita menistakannya, dan karena itu ia fiksi. Sebuah fiksi, meski berkutat dari premise peka, tetap sebuah dengong: ia benar karena kita anggap benar.
Padahal bukan begitu, ia benar karena kita menilai sejumlah gugahan perenungan. Gampangnya: bila kiamat sudah dekat, mengapa kita tidak cepat bergegas berbuat kebajikan? Mengapa tetap saja banyak manusia melakukan kenistaan?
Sebaiknya sebuah kreasi, bagimanapun, kita perlakukan sebuah sumber dari sekian banyak sumber pengetahuan. Tapi, ketika karya seni sudah menyalahi kodratiknya dan menjadi provokasi, ia menjadi, sebuah konsep yang gagal. Karaya ini tidak bisa memberikan ruang penafsiran.
Bagaimanapun, pada gilirannya, ada kecenderungan jika kiamat dikabarkan sudah dekat: kabar yang secara tidak langsung agar kita tobat. Tidak lagi lebih banyak memikirkan watak tendesius. Jika begitu kita sendiri “baik hati dan toleren”, tetapi tidak mengizinkan siapapun mengklaim tanggal dan tahun kepastian kiamat.
Dengan demikian sebuah karya seni (katakanlah karya sinematografi) yang tujuannya bagus, jadinya, tidak banyak kita salah mengerti. Tetapi banyak yang menganggap, setiap yang dilakukan karya fiksi mengusng premise peka, selalu benar. Sangat boleh jadi bersama itu kemudian bentuk lain melencengnya penafsirakan kita.
Alasan bagi kebebasan sebesar mungkin di dalam era reformasi merupakan alasan yang sangat kuat, kita harap, janganlah diimplementasikan secara melenceng. Akan tetapi kaum seniman dan kaum intelektual yang dengan segala cara “dipaksa”, cenderung memberi daya pikir tanggapan dengan rasa apatis. Dan jika –sebagaimana biasa--- ia tidak mampu memberikan melepaskan rasa keterkekangannya itu, maka ia tidak punya kontribusi apa-apa terhadap bangsa negara: tenggelam ke alam tidak-sadar dengan segala macam akibat yang aneh pada seluruh sisa hidupnya.
Karena semua alasan itu, kita yakin, masyarakat memahami sebuah karya fiksi. Jadi film 2012 itu Cuma dongeng menjelang tidur. Titik. Dan sebaiknya MUI mengurus hal-hal yang signifikan dan urgensi buat bangsa dan keumatan. ***