 JUMAT lalu, umat Islam merayakan Idul Adha, sering juga disebut Hari Raya Kurban. Momentum ini demikian penting untuk kita telisik dari perspektif sosiologis, mengajarkan manusia untuk tidak memikirakan dan mementingkan diri sendiri dan golongannya, berani berkurban untuk kemnausiaan.
Dalam artian, Idul Adha memberitahukan bahwa manusia harus bernai dan mempunyai jiwa berkurban, sehingga dengan begitu ia menjadi toleran pejuang untuk memerangi anasir-anasir perusak kemanusiaan, atau bersimpati (berempati) membantu manusia yang hidup sehari-harinya berbalut terus keteraniayaan. Dalam konteks Indonesia, di mana masih kita jumpai banyak manusia begitu egosime membela diri sendiri dan golongannya, maka ini merupakan tantangan yang harus diatasi dengan partisipasi dan keberpihakan semua unsur dari asumsi Idul Adha di atas tadi. Idul Adha juga mengjaka kita menghadapi egoisme, sebuah kungkungan perilaku yang demikian pelan-pelan mematikan nilai kemanusiaan. Berani berkurban, jadinya, secara sosiologis tadi, diharapkan mampu memperluas bentuk upaya meningkatkan perdamaian; yang tak kalah pentingnya juga dari sini adalah kepedulian dan tindakan nyata dari pribadi-pribadi yang terbilang peka daya empatinya, cemerlang daya pikirnya, dan ikhlas implementasinya. Pribadi-pribadi semacam ini, tentu pernah lahir dari pergulatan keberani berkurban –baik ini diterjemahkan dalam pengertian transendental, sosial, maupun aktual. Bersama mereka, kita yang terbilang dari komponen masyarakat, lembaga-lembaga keagamaan maupun pemerintah ataupun swasta, mampu lebih lanjut membuktikan melakukan aktualisasi diri melalui aneka kegiatan sosial di masyarakat: memerangi egoisme, kemiskinan, kekerasan dalam pengertiannya yang holistik. Ini berarti, kita, pelbagai pihak, memiliki peran strategis untuk berpartisipasi dalam gerak pembangunan bangsa dan negara. Sangat boleh jadi kini orang-orang yang berani berkurban (baik ini dalam pengertian transendental maupun sosial) kian ditagih untuk melakukan revitalisasi doktrin kemanusiaan yang lebih relevan, dan diharapkan menjadi motivator dalam memerangi dan memberantas kemiskinan. Begitulah. Demikian jauh Idul Adha mempunyai konsekuensi sosiologis terhadap pembentukan pribadi-pribadi yang mengerti apa itu perdamaian, anti kekerasan, dan anti-egoisme secara esensial; sehingga mereka tidak ingin dalam kehidupan keseharian banyak manusia kekerasa itu terus membelenggu saudara-saudara se-kemanusiaan. Maka saudara-saudara kita yang doyan egoisme dan kekerasan akibat konstruksi sosial, ekonomi, mapun politik, harus dibantu untuk bangkit menjadi kaum yang tekun dalam kepasrahan yang aktif: mengutuhkan kemanusiaan dan mengedepankan perdamaian. Di sini, Idul Adha, jadinya tanpa banyak celoteh transendental, langsung bisa masuk ke tataran aksional sosial untuk menjadi energi untuk berlomba menjadikan kita sebagai makhluk yang bermartabat: punya nilai kemanusiaan dan cinta perdamaian. Jadi, Idul Adha tak hanya diletakkan ke dalam doktrin transendental semata, ia bisa pula masuk ke dalam kontesktual sosial. Dengan ini kita jadi bisa lebih leluasa bahwa sebagai bangsa —bangsa relijius pula— mampu bergerak maju bersama dan bersinergi memerangi egois yang menyebabkan pula kemiskinan. Bukan mustahil pada gilirannya kelak bangsa ini pun akan menggapai kemakmuran, kemandirian, dan kejayaan. Insya Allah. Keterkaitan antara Idul Adha dengan realitas sosiologis, jadinya, merupakan penerapan konsep-konsep aksi sosial. *** |