SBY, Kemerdekaan dan Ramadhan
Thursday, 20 August 2009 03:47
Written by admin
Oleh Drs Usman Yatim MPd

CALON Presiden Jusuf Kalla dan pasangannya, Calon Wakil Presiden Wiranto, meskipun kecewa dengan hasil keputusan Mahkamah Konstitusi atas gugatan hasil pemilihan presiden, akhirnya secara resmi menyampaikan selamat kepada pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Boediono yang berhasil terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Periode 2009-2014. Dengan demikian, dapat dipastikan tidak ada lagi halangan yuridis yang dapat membatalkan terpilihnya pasangan SBY-Boediono dan diharapkan keduanya pada 20 Oktober 2009 sudah dapat dilantik.
Terpilihnya kembali SBY, dan Boediono menggantikan Jusuf Kalla, sesungguhnya sudah diyakini banyak orang sejak jauh hari dan bahkan ketika sebelum Pemilihan Presiden 8 Juli 2009 berlangsung. Ucapan resmi selamat terpilih dari Jusuf Kalla-Wiranto baru Rabu lalu dinyatakan karena ada sejumlah masalah yang dinilai merugikan pasangan JK-Wiranto dan Mega Prabowo sehingga harus menggugatnya ke Mahkamah Konstitusi. Harus diakui penyelenggaraan pemilu kali ini, baik pemilihan presiden maupun legislative memang banyak masalah dan semua ini dinilai terutama terkait dengan kinerja KPU (Komisi Pemilihan Umum). Namun, apapun itu, SBY-Boediono kini sudah sah terpilih dan mendapat mandat rakyat untuk memimpin masyarakat, bangsa dan Negara ini 5 tahun ke depan.
Kesuksesan SBY kali ini patut diacungi jempol karena melengkapi kemenangan Partai Demokrat yang dia dirikan. Tidaklah salah kiranya, bila dikatakan Orde Reformasi kini berada di bawah kepemimpinan SBY dan Partai Demokrat, sebagaimana masa Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto dan Golkar. Kita dalam lima tahun ke depan akan mengalami masa-masa pemerintahan Orde Reformasi di bawah kepemimpinan SBY bersama Partai Demokrat. Apa dan bagaimana kenyataan pada masa tersebut, tentu saja semua kita lihat nanti. Hal yang pasti tentu kita berharap, era kepemimpinan SBY dan Partai Demokrat dapat memenuhi harapan rakyat banyak, terutama menyangkut realisasi janji-janji SBY-Boediono saat kampanye lalu.
Harus diakui, realisasi janji-janji tersebut tidaklah mudah karena menyangkut banyak faktor, terutama terkait kondisi lingkungan strategis, baik lingkup global, regional dan lebih khusus lingkup nasional dan lokal. Dukungan segenap komponen bangsa dan Negara ini akan banyak menentukan nasib kita ke depan. Berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan akan tetap menyelimuti kehidupan kita sebagai bangsa dan Negara. Keberhasilan kita menghadapi semua itu terpikul kepada segenap rakyat, meski tanggungjawab utama ada di pundak SBY beserta segenap elit pemimpin dalam segala tingkatannya.
Kini saja, hari-hari belakangan ini, kita dihadapkan dengan keadaan yang penuh tantangan, terutama terkait dengan masalah keamanan nasional. Pasca pemilihan presiden, kita dikejutkan dengan ledakan bom di Mega Kuningan Jakarta. Aksi terorisme kembali mencuat, bahkan Polri baru saja membongkar aksi terror dengan sasaran langsung Presiden SBY sendiri, menyusul tewasnya Ibrohim yang disebut-sebut sebagai tokoh utama pelaku ledakan bom di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, 17 Juli lalu.
Kita tidak tahu, apakah kita akan kembali dikejutkan dengan aksi terror bom sehingga situasi dan kondisi kondusif yang sempat kita nikmati beberapa tahun belakangan ini benar-benar terus terganggu. Dilihat dari belum tertangkapnya gembong teroris Noordin M Top, tampaknya kita memang diminta untuk tetap selalu waspada dan siaga. Belum lagi bila dilihat dari berbagai permasalahan konflik seperti yang terjadi di Papua, bukan tidak mungkin berbagai gangguan keamanan nasional dapat saja setiap saat terjadi. Kita berharap, jajaran Polri dengan dukungan semua pihak tetap dapat mengatasi semua masalah keamanan ini.
Resminya SBY-Boediono terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2009-2014 patut kita syukuri, terlebih kini kita dalam suasana menyambut hari kemerdekaan RI dan juga bulan Ramadhan. Bila kita ingat, kemerdekaan RI diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta juga pas dalam bulan Ramadhan, saat umat Islam menunaikan ibadah puasa. Seolah kita kini diingatkan kembali tentang masa-masa perjuangan kemerdekaan melepaskan diri dari belenggu penjajahan kolonial.
Biarpun secara fisik kita kini sudah merdeka, sekarang ini masih banyak yang menyebut kemerdekaan dalam arti sesungguhnya masih harus terus kita perjuangkan. Tema kemerdekaan yang kita suarakan saat ini menyangkut kemerdekaan dari keterbelakangan, kemiskinan yang masih banyak menerpa kehidupan rakyat Indonesia. Hari kemerdekaan tidak sekadar kita peringati, kita ritualkan, melainkan masih harus kita perjuangkan. Arti kemerdekaan masih patut kita renungkan dan dalami.
Kini saatnya, ketika memperingati ulang tahun kemerdekaan RI, menjelang memasuki bulan puasa, dan saat menjelang pelantikan wakil-wakil rakyat di Senayan dan Presiden-Wakil Presiden, kita perlu melakukan banyak instrospeksi, evaluasi diri. Kegiatan mawas diri tidak hanya ditujukan kepada SBY dan mereka yang terpilih lainnya dalam mengemban amanat rakyat. Mereka yang tidak terpilih pun, mereka yang kalah, juga justru patut mawas diri. Kini patut dipertanyakan, apakah mereka yang kalah benar-benar mau legowo?
Dalam hal ini, sikap yang ditunjukkan Jusuf Kalla, menyampaikan ucapan selamat kepada SBY, patut kita beri apresiasi yang tinggi. Sikap dan tindakan seperti JK inilah yang patut kita kembangkan dalam kehidupan perpolitikan kita. Biarpun kecewa, ada hal-hal yang tidak memuaskan, kita patut tetap percaya dan mau mengikuti mekanisme konstitusi yang ada. Saatnya pula kita kini mengambangkan dan membangun budaya trust, percaya pada pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan dan Negara. Boleh jadi kondisinya banyak kelemahan, bahkan dapat juga ada penyimpangan atau penyelewengan, namun kita harus berkomitmen untuk tunduk, dapat menerima hasil yang telah diputuskan dari mekanisme system konstitusi yang ada.
Budaya trust layak kini kita kembangkan karena semua kini sudah mengarah pada kondisi kebebasan dan keterbukaan. Ketika semua sudah transparan, demokrasi terus kita kembangkan, maka hanya dengan budaya trust dapat kita memantapkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hanya bilamana trust membudaya sebagai implementasi iman dan taqwa, kita dapat membangun bangsa dan Negara Indonesia yang berkarakter. Hanya dengan karakter yang kuat, semua apa yang kita harapkan, kita cita-citakan dapat terwujud. Semoga tekad membudayakan trust, membangun iman dan karakter dapat kita canangkan dalam menyambut HUT RI dan Ramadhan. Selamat buat Pak SB Y dan Pak Boediono, dirgahayu Indonesia, selamat datang bulan Ramadhan.