Teror Bom dan Kemarahan SBY
Monday, 27 July 2009 15:37
Written by admin
Oleh Drs Usman Yatim MPd

Indonesia gerah. Inilah suasana yang menyelimuti kehidupan kita belakangan ini. Tiba-tiba saja, Jumat, 17 Juli 2009, bom meledak di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton Jakarta. Ledakan bom yang menewaskan 9 orang dan puluhan luka-luka itu, bukan saja membuat Indonesia gerah tetapi juga masyarakat dunia ikut bereaksi. Kecaman datang dari pemimpin berbagai Negara. Presiden Amerika Serikat Barack Obama bahkan secara khusus menelpon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas peristiwa terror bom tersebut.
Ternyata terror bom tak hanya berdampak pada masalah keamanan tetapi juga politik. Suasana politik ikut gerah bersamaan dengan ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton. Tak pelak lagi, kegerahan terjadi karena pernyataan SBY yang menyikapi terror bom dinilai menyerempet kepada pesaingnya sesama calon presien. Megawati, Prabowo Subianto, dan Jusuf Kalla secara khusus ikut mengeluarkan pernyataan yang nadanya mengklarifikasi pernyataan SBY.
Bila kita mendengarkan kembali pernyataan SBY beberapa jam setelah ledakan bom itu, memang dapat dimaklumi jika membuat panggung politik nasional ikut gerah. SBY kala itu mengatakan, “barangkali ada di antara kita, yang di waktu yang lalu melakukan kejahatan, membunuh, menghilangkan orang barangkali dan para pelaku itu masih lolos dari jeratan hukum, kali ini Negara tidak boleh membiarkan mereka menjadi drakula dan penyebar maut di negeri kita.” Ucapan SBY ini dinilai diarahkan pada orang tertentu, bahkan dari perbincangan di masyarakat, ini dialamatkan pada tokoh yang terkait peristiwa kerusuhan Mei 1998.
“Saya bersumpah, demi rakyat Indonesia yang sangat saya cintai, negara dan pemerintah akan melaksanakan tindakan yang tegas, tepat, dan benar terhadap pelaku pemboman ini, berikut otak dan penggeraknya, ataupun kejahatan-kejahatan lain yang mungkin atau dapat terjadi di negeri kita sekarang ini,” kata SBY. Pernyataan SBY ini terbilang sangat keras, terlihat ditujukan kepada siapa saja yang mencoba-coba mengganggu ketertiban dan keamanan, serta stabilitas nasional. Reaksi yang muncul, pemerintahan SBY ke depan dinilai akan bertindak represif, mengedepankan pendekatan keamanan dalam menciptakan stabilitas nasional.
SBY juga menyebut-nyebut soal terror bom dan Pemilihan Presiden 2009. Dia secara khusus mengungkap adanya latihan menembak dengan sasaran wajahnya, kemudian adanya gerakan yang ingin menggagalkan hasil pilpres, seperti menciptakan suasana seperti pasca pilpres di Iran serta upaya menggagalkan dirinya untuk dilantik kembali sebagai presiden. Megawati dan Jusuf kalla menanggapi SBY ini dengan mengatakan, tidak ada kaitan antara terror bom dan pilpres. Ledakan bom di Kuningan Jakarta itu jangan dipolitisir. Beberapa pengamat juga menyebut, pernyataan SBY tersebut cenderung diperluas ke masalah politik.
Melihat reaksi yang banyak menyayangkan pernyataan SBY tersebut, juru bicara Presiden Andi malaranggeng mengatakan, Presiden SBY tidak mempolitisir kasus bom melainkan sebagai ungkapan terhadap upaya tegas pemerintah mengusut dan menindak tegas dalang dan para pelaku terror bom. Anas Urbaningrum, Ketua DPP Partai Demokrat, menyatakan pula, pernyataan SBY itu merupakan ungkapan kemarahan terhadap tindakan peledakan bom yang berdampak luas bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pernyataan mengajak untuk memerangi gerakan teroris berulang kali diucapkan Presiden SBY. Saat peringatan Isra` Mi`raj, misalnya, SBY mengatakan, "Karena itulah kita mengecam sekeras-kerasnya tindakan teroris yang meledakkan bom di hari Jumat lalu, apapun motifnya, apapun tujuannya. Bentuk teror itu sangat bertentangan dengan ajaran agama dan juga bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa kita yang moderat, santun dan toleran serta menjuning tinggi kemanusiaan," tegas SBY. Bentuk teror itu, lanjut SBY, merobek rasa aman dan damai yang kita bangun dengan susah payah. Presiden SBY berharap aparat kepolisian secepatnya mengungkap kasus bom teroris itu dan para lelaku kejahatan patut mendapatkan sangsi hukum seadil-adilnya.
”Saya yakin kejadian yang terjadi pada hari Jumat lalu akan bisa segera kita selesaikan. Langkah-langkah investigasi kepolisian dibantu BIN dan TNI tengah berlangsung. Saya memantau tiap jam. Ibaratnya mereka terus bergerak untuk segera membawa pelakunya ke meja hijau dan akhirnya kita bisa menegakkan lagi keamanan di seluruh tanah air, sehingga tidak perlu terganggu apapun di masa depan, termasuk kegiatan rakyat kita, kegiatan perekonomian kita, kegiatan investasi dengan mitra-mitra kita baik dalam negeri maupun dari negara sahabat. Saya sampaikan kepada dunia bahwa Indonesia bisa mengatasi masalah ini dan kami bisa untuk terus menjamin keamanan yang makin baik di waktu yang akan datang,” kata SBY lagi saat meresmikan Museum Bank Indonesia, di Jl. Pintu Besar Utara, Jakarta Barat, Selasa (21/7) siang..
Menjelang sepekan tragedi ledakan bom, Presiden SBY menyadari bahwa pernyataannya telah menimbulkan berbagai multi tafsir. Dia mengakui banyak reaksi muncul terhadap pernyataannya tersebut. Selain itu SBY menilai media massa telah memelintir omongannya. SBY mengaku tidak pernah mengaitkan kasus bom itu dengan politik. "Yang terjadi berubah dari apa yang saya omongkan. Seperti diplintir dan diputarbalikan. Apa yang terjadi, SBY dituduh begitu saja mengkaitkan bom dengan pilpres," kata SBY saat Rakornas Partai Demokrat (PD), di Gedung JIEC Kemayoran, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2009.
Tampaknya, pernyataan SBY sehubungan kasus bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, dapat dilihat dari sudut pandang positif dan negative. Tentu dari sisi positif, kita semua dapat memaklumi pernyataan SBY itu. Kita malah dapat melihat sikap tegas dan reaksi cepat dari SBY. Menyangkut masalah keamanan, SBY memang tidak perlu menunggu atau banyak menimbang dalam bereaksi. Apalagi sikap ragu-ragu yang sempat ditudingkan kepada dirinya dalam memerintah selama 5 tahun terakhir. Lewat momen ledakan bom, SBY menunjukkan sikap tegas dan tidak ragu-ragu dalam masalah ketertiban dan keamanan, apapun motif di belakangnya, termasuk yang terkait dengan upaya menggagalkan hasil Pemilu 2009.
Sedangkan dari sisi negative, dapat saja sejumlah orang menilai pernyataan SBY terlalu berlebihan, memojokkan pihak-pihak tertentu dan tidak menunjukkan kearifan seorang negarawan. Pernyataan itu dapat pula dinilai bukan memecahkan masalah tetapi justru menambah masalah baru. Penilaian semua ini tentu saja terserah kita pula, begitu pula dalam menyikapinya. Boleh jadi, pernyataan tersebut seperti di luar konteks tetapi dapat saja ini disengaja dalam kerangka melihat reaksi dari lawan-lawan politiknya.
SBY di sini, sengaja atau tidak, telah mencoba memberi warning, peringatan, sekaligus dia mau melihat bagaimana sikap pesaingnya terhadap hasil pilpres yang akan segera diumumkan KPU. Hal yang sudah jelas, tampaknya hasil pilpres 2009 akan dapat diterima pihak yang kalah. Reaksi kekalahan diprediksi tidak akan mengarah pada upaya-upaya yang dapat meresahkan atau menjurus kepada bentuk kekerasan atau kerusuhan. Jika ini yang terjadi maka pernyataan SBY yang kontroversial tersebut sudah mencapai hasil yang diharapkan. Apalagi bila secara ekonomi dikaitkan dengan reaksi pasar, pernyataan tersebut membuat tidak adanya gejolak berlebihan atas terror bom yang terjadi.
Sementara kini pihak aparat keamanan terus mengungkap peristiwa ledakan bom di Kuningan Jakarta itu. Pekan lalu, pihak Polri telah menyebarluaskan dua sktesa wajah pelaku bom bunuh diri. Hal yang menarik, sketsa wajah itu bukan orang yang sebelumnya disangkakan, yaitu Nur Said. Pihak kepolisian terlihat masih mengarahkan penyidikan kepada teroris kelompok Noordin M Top yang terlibat dengan berbagai peledakan bom yang pernah terjadi di Indonesia. Artinya, sampai saat ini kasus bom JW Marriot dan Ritz Carlton belum secara langsung mengarah pada motif politik dalam negeri.
Bagaimana pun, dilihat dari sasaran bom, pesan teroris terkesan lebih banyak ditujukan untuk konsumsi dunia internasional, paling tidak Amerika Serikat dan sekutunya. Ledakan bom telah membuat dunia gerah dan reaksi yang muncul dikaitkan dengan gerakan teroris internasional, seperti Al Qaeda. Tentu saja, dampak terror bom ini berpengaruh buat Indonesia. Belum jelas, apakah Indonesia jadi sasaran bom juga untuk mengingatkan pemerintahan SBY yang selama kampanye pilpres disebut-sebut sangat dekat dengan AS, termasuk Boediono yang bahkan dituding pro neoliberalisme , suatu istilah yang juga berbau AS.
Hal yang jelas, ledakan bom telah mempengaruhi kehidupan dalam negeri seperti dikatakan SBY: “Dengan aksi-aksi teror yang keji dan tidak bertanggungjawab ini, apa yang telah kita bangun hampir lima tahun terakhir ini oleh kerja keras dan tetesan keringat seluruh rakyat Indonesia, lagi-lagi harus mengalami goncangan dan kemunduran. Lagi-lagi dampak buruknya harus dipikul oleh seluruh rakyat Indonesia, minus mereka-mereka yang melakukan tindakan yang tidak bertanggungjawab itu. Oleh karena itu kebenaran dan keadilan serta tegaknya hukum harus diwujudkan.”
Bila demikian adanya, kita tampaknya memang harus dapat memaklumi pernyataan SBY sehubungan teror bom tersebut meski ada yang dirasa kurang pas. Kita jangan sampai malah berpolemik berkepanjangan seputar isi pernyataan SBY itu, sementara inti persoalan yang dihadapi masyarakat, bangsa dan Negara ini malah jadi terkesampingkan. Selain itu jangan sampai, terror bom menghasilkan konflik politik baru, karena siapa tahu tujuan terror bom itu memang benar-benar ingin menyulut konflik elit politik yang berimbas ke masyarakat bawah dan menggoyahkan stabilitas nasional.
Kedewasaan berpolitik memang sangat dituntut dari para elit bangsa. Apa dan bagaimana sikap cawapres Prabowo Subianto, misalnya, yang juga sempat mengklarifikasi pernyataan SBY patut diapresiasi karena dia menyatakan mencoba melihatnya dari sudut pandang positif. "Saya memilih berpikiran positif saja, lah. Namun upaya hukum jalan terus. Sekarang tim hukum Megawati-Prabowo masih mempelajari. Kalau kemudian mereka menyimpulkan dan memberi pendapat hukum, ya akan kami laksanakan. Saya kira tidak ada yang menyurutkan langkah," ujar Prabowo, menanggapi SBY sekaligus upaya kubunya dalam menyikapi hasil Pilpres 2009. Mudah-mudahan kita semua memang benar-benar berpikir positif, jernih, lebih mengedepankan akal sehat. Semoga!
Penulis adalah dosen Fikom Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) Jakarta.