Thursday, July 29, 2010

SBY – Partai Demokrat Tuntaskan Agenda Reformasi

Oleh Drs Usman Yatim MPd

ImageTampaknya dua pekan setelah hari Pemilihan Presiden  (Pilpres), hasil penghitungan suara sudah menunjukkan kepastian bahwa pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono terbukti benar-benar meraih suara di atas 50% dan dengan demikian pasangan inilah yang akan memimpin bangsa dan Negara tercinta ini untuk periode 2009-2014 tanpa harus melalui pilpres putaran kedua. Terlepas dari berbagai kekurangan, protes dari capres-cawapres lainnya terhadap penyelenggaraan Pilpres 2009, kemenangan SBY-Boediono tetaplah memiliki legitimasi kuat dan tak tergoyahkan.
Kemenangan SBY-Boediono juga sudah mendapat repon dari sejumlah pemimpin Negara, bahkan Presiden AS Barack Obama juga ikut mengucapkan selamat kepada SBY. Ucapan selamat tersebut tentu saja kian mengukuhkan kemenangan SBY meski hal ini dapat saja dianggap sebagai bentuk intervensi atas tugas KPU yang belum mengumumkan secara resmi hasil pilpres.

Melalui media ini pada edisi lalu, saya menyebutkan, terpilihnya kembali SBY sebagai Presiden RI kali ini telah mengokohkan posisinya sebagai pemimpin bangsa dan Negara ini yang dapat mengimbangi  sosok kepemimpinan pendahulunya,  proklamator Bung Karno dan Bapak Pembangunan Pak Harto. Kalau sosok Bung Karno dan Pak Harto banyak disebut sebagai  the strongest leader pada masanya maka SBY pada masa kini memiliki potensi disebut  sebagai the greatest leader.

Pemahaman terhadap the strongest leader sering terkait dengan masalah power (kekuasaan).  Bung Karno dan Pak Harto banyak disebut sebagai sosok pemimpin yang kuat dilihat dari berbagai hal, terutama dalam mengendalikan kekuasaannya. Bahkan begitu kuatnya sosok kepemimpinan keduanya, membuat munculnya pandangan negative, yaitu cenderung mengarah pada sebutan otoriter, diktator dan lain sebagainya, walau tentu saja penilaian negative ini dapat saja mengundang pro kontra.

Sementara penyebutan the greatest leader, dapat dipahami sebagai pemimpin yang hebat, jago, besar, termasuk memimjam istilah Andi Malaranggeng saat kampanye Pilpres, sebagai  pemimpin terbaik (the best leader). SBY dapat kita prediksi nantinya mengikuti sosok yang setara atau bahkan boleh saja melebihi pendahulunya, bukanlah dengan maksud untuk memberikan gelar atau pemberian pujian atas kemenangannya pada pilpres kali ini.

Fakta menunjukkan bahwa setelah Bung Karno dan Pak Harto, SBY lah kini yang masa jabatannya cukup lama, yaitu kini sudah 5 tahun dan nanti Insya Allah, akan dapat sampai 10 tahun, biarpun tidak menyamai kedua pendahulunya tersebut yang  berkuasa lebih dari 20 tahun. Rekor masa jabatan SBY yang cukup lama ini pulalah membuat kita dapat memperkirakan bahwa SBY lah pada akhirnya yang mengendalikan era setelah Orde Lama dan Orde Baru, yaitu yang sering kita sebut sebagai Orde Reformasi.

Kita tahu setelah Pak Harto lengser Mei 1998 dan kemudian pamor Golkar mulai menurun, kini masa Orde Reformasi kepemimpinan nasional ada pada SBY dengan didukung  Partai Demokrat. Dilihat dari perolehan Pilpres 2009, dukungan rakyat kepada SBY demikian besarnya, di atas 50%. Sementara dilihat dari Partai Demokrat, dukungan rakyat baru terlihat sekitar setengah dari suara yang diraih SBY meski kini sudah berada di atas Partai Demokrasi Indonesia  Perjuangan (PDIP) dan Partai Golkar.  Keunggulan SBY bersama Partai Demokrat ini pulalah kenapa kita layak mengedepankan istilah the greatest  leader buat SBY.  

SBY juga disebut the greatest leader  karena merupakan satu-satunya Presiden RI yang mendapat dukungan rakyat lewat pemilihan umum secara langsung. Dia seorang juara, memiliki peringkat tinggi dalam suatu kompetisi. Tampilnya SBY saat ini adalah dalam era kompetisi , ajang pemilihan yang demikian terbuka. Kemenangannya tidak didapatkan lewat cara-cara sebagaimana masa lalu yang mengundang demikian banyak kritik, kecaman dan hujatan. Kini protes memang tetap ada tetapi kedaulatan demikian nyata ada pada rakyat.  

Sekali lagi, terlepas dari kelemahan penyelenggaraan pilpres, SBY bersama Boediono tetaplah kita nilai sebagai pemenang, juara  dengan jumlah suara yang besar. SBY kini benar-benar akan kembali menjadi orang nomor satu di republik ini. Pada dirinyalah kini, rakyat memberikan mandat langsung untuk memimpin masa depan bangsa dan Negara ini. Jika masa 5 tahun pertama memimpin, SBY masih dibayangi oleh Jusuf Kalla maka kali ini dia bersama Boediono akan tampil jauh berbeda, terutama dalam hal pengendalian kepemimpinan dan sekaligus kekuasaan pemerintahan.     

Lebih dari itu, saatnya kini SBY dapat lebih berbuat banyak, menorehkan sejarah baru, yaitu mengantarkan masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia mewujudkan cita-cita, mencapai tujuan nasional sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 yang intinya mensejahterakan dan memakmurkan rakyat Indonesia. Dilihat dari babakan periode sejarah, SBY yang kini bersama Boediono, dia memiliki beban tanggung jawab untuk menuntaskan perjuangan gerakan reformasi sebagaimana banyak disuarakan pasca lengsernya Presiden RI kedua, HM Soeharto. Kini kita dapat menyebut sukses atau gagalnya reformasi banyak ditentukan atau tergantung pada periode kepemimpinan SBY dalam 5 tahun ke depan.

Masih ingatkah kita dengan agenda reformasi yang dicetuskan pada 10-11 tahun lalu? Inti dari agenda reformasi yang dulu dimotori oleh para mahasiswa tersebut adalah penegakan supremasi hukum; pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN); pengadilan mantan Presiden Soeharto dan kroninya; amandemen konstitusi; pencabutan dwifungsi TNI/Polri; pemulihan ekonomi serta pemberian otonomi daerah seluas- luasnya.

Jika kita menyimak agenda reformasi tersebut, sebenarnya selama 5 tahun terakhir kepemimpinannya telah dilaksanakan oleh pemerintahan SBY, termasuk rintisan dari presiden sebelumnya mulai dari BJ Habibie, Abdurahman Wahid dan sampai Megawati Soekarnoputri. Misalnya saja, dalam masalah pemberantasan korupsi, selama kepemimpinan SBY cukup gencar dilakukan, bahkan hal ini menjerat petinggi Bank Indonesia, termasuk besan SBY sendiri, Aulia Pohan. Begitu pula dengan pengadilan terhadap mantan Presiden Soeharto boleh dikatakan sudah tuntas permasalahannya, seiring telah wafatnya Pak Harto.

Tentu saja agenda reformasi tersebut masih banyak kekurangan sehingga masih diperlukan sejumlah program untuk menuntaskannya  Boleh dikata, program yang diajukan SBY ketika kampanye pilpres terakhir di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 4 Juli 2009 yang sebanyak 15 butir. Merupakan jawabannya untuk menuntaskan agenda reformasi tersebut. SBY kala itu menyatakan, “Insya Allah. 5 tahun lagi dunia akan mengatakan. Indonesia is amazing, is emerging. Indonesia akan bangkit dan maju.”

Pemerintahan SBY dalam 5 tahun ke depan akan melaksanakan 5 agenda besar, yaitu pembangunan pemerintahan yang bersih. HAM, penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, pembangunan yang adil dan merata di seluruh tanah air. Agenda yang nafasnya sama dengan agenda reformasi tersebut akan diimplementasikan pemerintahan SBY dalam hal berikut:

1.  Pertumbuhan ekonomi meningkat, minimal 7 persen, kesejahteraan rakyat lebih meningkat. Untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
2.  Kemiskinan mesti berkurang, mencapai 8-10%. Pembangunan perdesaan dan program pro rakyat.
3.  Pengangguran akan berkurang lagi, 5-6%, lapangan pekerjaan, dan peningkatan modal usaha bagi yang berwira usaha.
4.  Pendidikan harus meningkat lagi. Mutu, infrastruktur, kesejahteraan guru dan dosen. Anggaran pendidikan yang merata. Tetap gratis bagi yang tidak mampu.
5.  Kesehatan masyarakat mesti meningkat lagi. Pemberantasan penyakit menular. Obat gratis bagi yang belum mampu.
6.  Ketahanan pangan mesti meningkat lagi. Kita sudah berswasembada beras, jagung ,dan kopi. Daging, dan kedelai. Jaringan pupuk harus ditingkatkan, agar pertanian kita maju.
7.  Ketahanan energi meningkat lagi. Menambah daya listrik untuk rakyat, dan bbm, dan energi yang terbarukan.
8.  Pembangunan infrastruktur yang bermanfaat. Baik di jawa maupun luar jawa.
9.  Peningkatan pembangunan perumahan rakyat. Misalnya, rumah susun untuk buruh dan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
10. Peningkatan pengelolaan lingkungan dan penghijauan, untuk menanggulangi bencana alam.
11. Pertahanan dan keamanan. Pembaruan alat persenjataan TNI dan Polri.
12. Reformasi birokrasi dan pemberantasan KKN ditingkatkan. Pencegahan korupsi dan peningkatan pelayanan publik.
13. Otonomi daerah dan pemerataan pembangunan ditingkatkan.
14. Demokrasi dan penghormatan terhadap HAM akan semakin dikembangkan. Jangan terjadi lagi HAM berat di negeri ini.
15. Peran internasional indonesia makin ditingkatkan. Sehingga bangsa kita bisa berbuat banyak untuk kedamaian, kemakmuran, dan keadilan dunia.

Program-program yang ditawarkan SBY itu jika benar-benar dapat diimplementasikan maka memang akan dapat menuntaskan agenda reformasi. Sejarah layak mencatat nantinya bahwa SBY bersama Partai Demokrat  telah mampu menjadi motor, lokomotif pembangunan masa Orde Reformasi. SBY bersama Partai Demokrat telah menjadi symbol atau ikon Orde Reformasi, sebagaimana Bung Karno bersama PNI pada masa Orde Lama dan Pak Harto bersama Golkar pada masa Orde Baru.    
Hal tersebut akan menjadi sangat indah bagi bangsa dan Negara ini. SBY bila sukses dalam kepemimpinan 5 tahun ke depan,akan  memiliki kelebihan atau setidaknya keunikan dibandingkan dua era sebelumnya, yaitu dia berada dalam era keterbukaan dan kebebasan yang seolah seperti tanpa batas. SBY tidak dapat lagi mengikuti seperti masa pendahulunya yang dapat berkuasa mencapai 20 tahun lebih karena konstitusi telah membatasi masa jabatan presiden tidak boleh lebih dari dua periode (10 tahun). Meski hanya dapat berkuasa 10 tahun, jika kualitas realisasi program kerja pemerintahan SBY benar-benar memuaskan rakyat tentulah nilainya tidak kalah dengan pendahulunya yang berkuasa lebih dari 20 tahun.
Tentu saja apa yang akan dilaksanakan pemerintahan SBY bersama Boediono ke depan tidaklah mudah. Tantangan demi tantangan tentu akan banyak dihadapi tetapi di sinilah kualitas the greatest leader-nya  diuji.  Ujian yang paling menentukan adalah dalam memapankan format politik yang sesuai dengan tuntutan masa depan. Misalnya, dalam pelaksanaan Pemilu 2014 apakah akan dapat berjalan mulus, tidak gonjang ganjing seperti sekarang ini? Apakah kita akan tetap menggelar pemilu legislative dengan jumlah partai yang demikian banyak?  
Begitu pula dengan masalah DPT (Daftar Pemilih Tetap) apakah akan dapat dituntaskan pada pemilu mendatang? Tampaknya, meski penyelenggaraan Pemilu dilaksanakan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) seyogyanya pemerintah tetap bertanggung jawab atas kesuksesannya. Tak salah kiranya, sebagaimana masa Orde Baru, kesuksesan pemilu dimasukkan dalam agenda program pemerintah, setidaknya tanggungjawab dalam mendukung tugas-tugaskesekretariatan  KPU.     
Sebagaimana masa Orde Baru, kepemimpinan SBY tentu juga akan diuji dari berbagai sikap yang ditunjukkan oleh lawan-lawan politiknya. Bagaimana pun, SB Y tentu akan tetap terus mengembangkan dan mengokohkan Partai Demokrat sebagai partai terbesar dalam era Orde Reformasi. Dalam konteks ini, SBY dapat saja mendapat tantangan besar yang kondisinya bakal tidak jauh berbeda ketika Pak Harto menjadi Pembina Golkar.
Tidak akan aneh nantinya, bila SBY akan dikecam sebagai pemimpin yang mencoba mempertahankan atau melanggengkan kekuasaannya. Dalam arti, boleh saja 2014 SBY lengser tetapi bila Partai Demokrat tetap atau bahkan lebih sukses pada Pemilu 2014, keberadaanya tetap akan punya pengaruh besar. Paling tidak, SBY bila sukses dalam kepemimpinan keduanya ini, dapat saja seperti Lee Kwan Yew, mantan Perdana Menteri Singapura yang sampai kini masih punya pengaruh besar di negaranya.
SBY  tentu saja kini tidak mau banyak bicara tentang masa depan posisinya, apalagi menyangkut setelah 2014. Sebagaimana dia katakan pekan lalu, dia tidak punya pikiran macam-macam, seperti menyiapkan istrinya untuk pilpres 2014 dan seterusnya menyiapkan anaknya. Memang, secara konstitusi, dia jadi presiden hanya untuk sampai 2014. Namun dalam rangka mewujudkan cita-cita atau tujuan nasional, terutama menjadikan Partai Demokrat yang dia dirikan sebagai partai terdepan dalam mengambil peran dan tanggung jawab lokomotif Orde Reformasi tersebut,maka  tetap saja kiprah SBY akan punya pengaruh besar dalam kehidupan bangsa dan Negara.
Pengaruh tersebut bukan tidak mungkin masanya dapat mencapai 20 tahun lebih, sebagaimana Bung Karno dan Pak Harto. Apa ya mungkin? Tampaknya, waktulah nanti yang akan membuktikannya. Hal yang jelas, kini kita memang tengah berada dalam era Orde Reformasi di bawah kepemimpinan nasional SBY bersama Partai Demokrat. Kepimpinan SBY bersama fungsionaris Partai Demokrat memainkan perannya dalam menggalang kekuatan bersama dengan segenap komponen bangsa.  Kekuatan SBY dan Partai Demokrat adalah dalam merangkul segenap kekuatan bangsa untuk menuntaskan agenda reformasi. Kemampuan merangkul kekuatan komponen bangsa pada dasarnya merupakan bagian dari peran sebagai lokomotif Orde Reformasi tersebut. ***Penulis adalah dosen Fikom UPDM(B) Jakarta