Presiden dengan Mandat Baru
Monday, 06 July 2009 18:08
Written by admin
Oleh Drs Usman Yatim MPd

SEGENAP rakyat Indonesia akan berbondong-bondong menuju TPS (Tempat Pemungutan Suara) guna menyalurkan hak pilihnya, Rabu, 8 Juli 2009. Mereka akan menjadi penentu bagi terpilihnya Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2009 – 2014. Siapakah presiden dan wakil presiden yang akan mendapatkan mandat baru tersebut, apakah pasangan, Megawati Soekarnoputri-Prabowo Soebianto, Soesilo Bambang Yudhoyono-Boediono atau Jusuf Kalla-Wiranto?
Berdasarkan berbagai pooling yang dilakukan sejumlah lembaga belakangan ini, pasangan SBY-Boediono banyak diunggulkan. Tidak hanya dijagokan, hasil jajak pendapat tersebut juga memprediksi kemenangan SBY-Boediono dengan angka telak di atas 50% sehingga pemilihan dinyatakan cukup satu putaran saja. Tim sukses SBY-Boediono juga memanfatkan hasil pooling dengan sering mengkampanyekan bahwa pilpres cukup satu putaran. Apakah memang pilpres kali ini akan berlangsung satu putaran dengan kemenangan SBY-Boediono?
Mereka yang yakin dengan berbagai hasil pooling tentu saja akan banyak setuju pilpres cukup satu putaran. Kita yang tak banyak berkepentingan langsung dalam penyelenggaraan pilpres tentulah juga berharap pesta demokrasi ini berlangsung satu putaran. Alasannya banyak terkait dengan besarnya anggaran yang disedot untuk kegiatan 5 tahun sekali ini. Hanya tentu saja pemenangnya tidak harus sebagaimana diprediksi lewat pooling.
Sampai pada hasil penghitungan selesai, paling tidak lewat Quick Count, kita tentu tetap berpendapat bahwa ketiga pasangan capres-cawapres memiliki peluang sama untuk dapat meraih suara terbanyak, termasuk kemungkinan pilpres digelar dua putaran. Dasarnya, selain kita harus menjunjung asas fair play , jujur, adil, bebas dan rahasia, juga karena kita tidak boleh mendahului kehendak Sang Maha Kuasa. Kita boleh saja punya prediksi, berharap banyak, tetapi semua akhirnya ditentukan setelah proses penghitungan menghasilkan pemenang sesungguhnya. Memang, prediksi sangat sering tidak meleset tetapi kemungkinan tidak tepat dapat saja terjadi.
Melihat ketiga pasangan capres-cawapres pada pilpres kali ini, kita yang benar-benar bersikap netral, tentulah akan mengatakan bahwa mereka masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Berpegang pada kaidah tidak ada yang sempurna maka dapat saja kita menemukan para capres-cawapres memiliki kelemahan. Sementara kalau kita selalu mengedepankan cara berfikir positif, ketiga capres-cawapres memiliki keunggulan masing-masing. Jika kita memang pada posisi terakhir ini, boleh kita sebut bahwa pada pilpres saat ini, kita benar-benar telah memiliki capres-cawapres terbaik.
Maksudnya, apapun hasil Pilpres 8 Juli nanti, kita harus dapat menerimanya. Apakah itu satu putaran dengan menghasilkan capres-cawapres terpilih atau harus putran kedua. Siapapun pemenang Pilpres 2009 harus dapat kita terima dengan sukacita. Kita harus menyambut dengan optimistis bahwa capres-cawapres terpilih dapat membawa bangsa dan Negara ini ke masa depan yang cerah, lebih baik dari sekarang. Capres-cawapres terpilih dapat mensejahterakan rakyat sebagaimana janji-janji yang pernah dikemukakan selama kampanye.
Tentu saja harapan itu sangat terpulang kepada kita semua, terutama para capres-cawapres beserta tim sukses masing-masing. Potensi konflik, sikap menolak hasil pilpres tetap saja dimungkinkan, bila kita melihat pengalaman pemilu legislative. Belum lagi kalau melihat kinerja KPU (Komisi Pemilihan Umum) yang memang belum sebagaimana diharapkan, seperti dalam hal penghitungan suara yang dapat saja kembali mengalami banyak kekurangan, terutama dalam pemanfaatan teknologi komunikasi. Kita masih waswas, apakah masyarakat tetap tidak dapat mengakses hasil penghitungan suara lewat online sebagaimana pemilu legislative lalu?
Sebagaimana pilpres di Negara maju seperti Amerika Serikat, kita berharap para capres-cawapres setelah mengetahui pemenangnya dapat menyampaikan pernyataan sikap yang saling memuji, hormat menghormati. Sebagai bangsa yang berbudaya dan beradab, harusnya kita dapat menunjukkan sikap saling menjunjung tinggi kehormatan diri masing-masing dengan dapat menerima secara lapang hati, apakah menang atau kalah. Boleh saja selama kampanye keluar kata-kata, ucapan yang bernada keras, bahkan boleh jadi saling menuding, mengkritik, mengujat atau mencaci tetapi begitu pemenang telah ditetapkan maka semua dapat melupakannya.
Nah, di sinilah kebesaran jiwa, sikap kenegarawan para capres-cawapres sangat dituntut. Dapatkah mereka bersikap legowo, melihat kemenangan atau kekalahan tidak terlalu tersangkut dengan kepentingan pribadi, melainkan benar-benar lebih mengedepankan kepentingan rakyat, bangsa dan Negara? Dapatkah para capres-cawapres dengan kebesaran jiwa dapat menerima hasil pilpres 2009 dengan segala kekurangannya? Inilah sebuah lingkaran setan yang dapat diputuskan guna kita dapat memasuki sejarah babak baru dalam membangun demokrasi sesungguhnya. Kita membangun demokrasi yang menjunjung tinggi iman-karakter bangsa dan Negara. Semoga!