Kabayan dan Liplap Menumbuhkan Cinta Produk Lokal
Saturday, 16 August 2008 19:13
Written by admin
(Jakarta, MADINA): Film Kabayan dan Liplap hasil produksi Castle Production yang didukung oleh Departemen Perdagangan (Depdag) merupakan hasil kreasi anak bangsa yang mencitrakan dan menghidupkan kembali cerita asli Indonesia. Castle Production adalah salah satu produsen animasi di Indonesia yang sudah melakukan pekerjaan animasi untuk perusahaan-perusahaan di luar negeri dan sebagai percontohan untuk membangkitkan ekonomi kreatif ala Indonesia, telah diminta untuk mengembangkan karakter Indonesia, dengan cerita yang juga khas Indonesia. Film seri ini menjadi salah satu bagian kampanye kebanggaan nasional atau National Pride Campaigne untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga anak Indonesia akan bangsa dan negara mereka.
Demikian dikatakan Menteri Perdagangan (Mendag), Dr Mari Elka Pangestu, kepada wartawan dalam acara jumpa pers yang digelar seusai acara peresmian Bulan Indonesia Kreatif 2008 di Hotel Four Seasons, Jakarta, belum lama ini.
“Animasi ini merupakan inisisatif Depdag untuk mendorong program TV lokal yang diharapkan dapat membangkitkan kebanggaan nasional (National Pride) maupun apresiasi mengenai bangsa dan budaya Indonesia, untuk anak-anak Indonesia mengingat 90 persen program film animasi anak yang ditayangkan di stasiun TV merupakan produk asing. Usaha ini juga dilakukan untuk lebih menggairahkan produsen dan perusahaan animasi lokal untuk membuat program animasi lokal setelah selama ini lebih banyak membuat film animasi untuk keperluan ekspor. Pasar Indonesia demikian besarnya. Persentase dari penduduk kita yang dibawah umur 14 tahun adalah 30 persen atau lebih 60 juta,” jelas Mari.
Ibu Negara Hj Ani Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu, secara resmi meluncurkan film animasi asli Indonesia Kabayan dan Liplap dalam rangkaian peresmian Bulan Indonesia Kreatif bertempat di Balai Kartini, Jakarta. Peluncuran film animasi yang juga merupakan edutainment ini menjadi puncak acara dari serangkaian penyelenggaraan Bulan Indonesia Kreatif yang digelar Depdag bersama komunitas kreatif di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali selama Agustus 2008.
Mari menambahkan, film seri Kabayan dan Liplap juga dijadikan sebagai salah satu sarana di mobil pintar, motor pintar, perahu pintar dan rumah-rumah pintar dalam program Indonesia Pintar oleh Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) ini mengetengahkan khasanah budaya, warisan, serta kekayaan tanah air Indonesia. Film seri ini terdiri dari 52 episode dan rencananya ditayangkan secara serial oleh stasiun televisi nasional mulai bulan September dan Oktober mendatang.
“Peluncuran film animasi dan sejumlah prakarsa Depdag bersama komunitas kreatif di beberapa daerah dalam Bulan Indonesia Kreatif diharapakan dapat lebih menggiatkan penggunaan produksi dalam negeri secara konsisten dan berkelanjutan,” kata Mari.
Bersamaan dengan peluncuran film animasi Kabayan dan Liplap, di tempat yang sama Ibu Negara Hj Ani Susilo Bambang Yudhoyono juga sekaligus membuka Pangan Nusa 2008, Pameran Ekonomi Kreatif Indonesia Bisa yang digelar 3 Mal, yakni Senayan City, Alun-alun Indonesia (Grand Indonesia) dan Mal Kelapa Gading 3, Festival Kuliner Indonesia digelar di 19 hotel di Jakarta, Pinasthika Awards Yogyakarta, Helar Fest Bandung, Indonesian Young Designer Week 2008 Surabaya, Festival Mode Indonesia-Jakarta Fashion Week 2008, Bali Fashion Week 2008 dan Peluncuran Citra Tenun Indonesia.
“Sudah waktunya kita tingkatkan terus apresiasi kita mengenai produk kreatif dalam negeri,” tegas Mari Pangestu. Menurut Mari, Pangan Nusa 2008 yang pada kesempatan tersebut diresmikan oleh Ibu Ani SBY merupakan penyelenggaraan ke-3 dan dalam perjalanannya bukan saja dapat menjadi wadah bagi UKM Pangan mempromosikan produk-produk mereka namun sekaligus menjadi yang bersumber dari kearifan lokal di luar beras dan tepung terigu.
Selain tentu saja menjadi tempat bertukar pengetahuan guna meningkatkan wawasan mengenai bagaimana meningkatkan mutu dan keamanan pangan tanpa menafikan penampilan produk secara cantik. Tantangan utama bagi produk pangan dalam negeri adalah menggunakan basis lokal dalam bentuk kontemporer, inovasi untuk menciptakan cita rasa yang baik dan kemasan yang menarik.
Diharapkan Bulan Indonesia Kreatif ini menjadi awal yang tidak akan berakhir di bulan Agustus ini saja, namun menjadi lompatan besar dan gerakan yang dapat lebih membangun semangat dan apresiasi kaum muda Indonesia untuk lebih kreatif di bulan-bulan berikutnya serta di tahun-tahun selanjutnya. Dengan demikian, karya kreatif kaum muda tersebut akan memberikan sumbangan bagi perekonomian dan peradaban bangsa Indonesia di masa yang akan datang.
“ Kaum muda yang merupakan separuh dari penduduk kita, yaitu 50 persen penduduk Indonesia yang berada di bawah umur 24 tahun (atau lebih dari 100 juta) merupakan sumber daya kreatif maupun pada saat yang bersamaan pasar yang luar biasa besarnya sebagai dasar dan cikal bakal yang penting bagi perkembangan ekonomi kreatif yang diciptakan oleh anak bangsa untuk anak bangsa sendiri,” tutur Mari.
Guna menggerakkan kegiatan ekonomi kreatif, selain bekerjasama dengan komunitas kreatif di berbagai daerah, Depdag juga menjalin kerjasama dengan BNI 46 dalam bidang pengembangan kegiatan ekonomi kreatif dan pemberdayaan pengusaha usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Kerjasana tersebut meliputi sosialisasi dan cetak biru (blue print) pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia, pemberian dukungan pemberdayaan pasar tradisional, pemberian layanan jasa dan produk perbankan dan pengelolaan kegiatan Etalase Indonesia Kreatif di bandara.
Kerjasama ini dikonkretkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman antara Direktur Utama (Dirut) BNI 46, Gatot M Suwondo, dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Depdag, Ardiansyah S Parman. Dukungan pihak BNI 46 selain pertimbangan bisnis karena pengembangan kegiatan ekonomi kreatif juga memiliki nilai melestarikan hasil karya dan budaya bangsa. Harapan utama dari kegiatan-kegiatan bulan Indonesia kreatif adalah terutama untuk mulai membangun jejaring industri kreatif dan pelaku kreatif yang dapat dikembangkan secara terus menerus untuk digunakan oleh semua pihak, mencontohkan apa yang “bisa” dilakukan oleh anak bangsa-Indonesia Bisa! sesuai dengan motto dari 100 Tahun Kebangkitan Nasional, meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap produk kreatif dalam negeri, dan menggambarkan betapa pentingnya berbagai bentuk kemitraan dan kebersamaan antara pemerintah, cendekiawan/masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif dan dunia usaha (perbankan dan akses untuk modal, sektor ritel, perusahan besar sebagai Corporate Social Responsibility/CSR). (mur)